Sejarah Singkat Cheongsam

Cheongsam, juga dikenal sebagai qipao, adalah gaun yang berasal dari Shanghai tahun 1920-an. Dengan cepat menjadi fenomena mode yang diadopsi oleh bintang film dan siswi. Sejarah pakaian ikon ini mencerminkan kebangkitan wanita Cina modern di abad kedua puluh.

Kisah cheongsam dimulai dengan penggulingan dinasti Qing dan pendirian Republik Cina pada tahun 1912. Pada pertengahan 1910-an dan awal 1920-an, para intelektual Cina mulai memberontak terhadap nilai-nilai tradisional, sebaliknya menyerukan masyarakat demokratis dan egaliter yang berbasis pada standar Barat, termasuk emansipasi dan pendidikan wanita. Mengikat kaki, praktik menyakitkan mengikat kaki gadis muda untuk mencegah pertumbuhan mereka, dilarang.

Ketika perempuan diizinkan masuk ke dalam sistem pendidikan mulai tahun 1920-an, menjadi guru dan mahasiswa, mereka melepaskan jubah tradisional berhias masa lalu dan mengadopsi bentuk awal cheongsam, yang muncul dari pakaian pria androgini yang disebut changpao. Shanghai, kota pelabuhan yang aktif dan bersemangat dengan populasi besar orang asing, berada di ujung tombak pergantian mode ini.

Cheongsam awal 1920-an memiliki potongan lebih longgar dari cheongsam hari ini, dengan lengan panjang lebar. Dengan cepat menjadi pakaian biasa wanita perkotaan di kota-kota metropolitan seperti Beijing, Shanghai, Hong Kong, dan Taiwan. Seiring perkembangan garmen, sutra tradisional diganti dengan tekstil kontemporer yang lebih murah. Dalam hal desain, motif bordir tradisional tetap tersebar luas, tetapi pola geometris dan art deco juga mendapatkan popularitas.

Melalui tahun 1930-an dan 1940-an, cheongsam terus berubah, menonjolkan feminitas dan seksualitas wanita Tionghoa perkotaan. Gaun itu menjadi lebih pas dan memeluk tubuh, dengan beberapa desain berani menampilkan celah samping yang mencapai hingga paha. Sudah menjadi kebiasaan untuk memasangkan gaun dengan sepatu hak tinggi. Wanita bereksperimen dengan berbagai pengencang, pipa, dan kerah, serta lengan pendek, lengan panjang dengan manset berlapis bulu, dan cheongsam tanpa lengan.

Namun, tak lama setelah kebangkitan pemerintah Komunis, cheongsam, yang dianggap borjuis, menghilang dari kehidupan sehari-hari di daratan Tiongkok. Di Shanghai, tempat kelahiran cheongsam, jalan-jalan dipatroli untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengenakan pakaian modis. Ideologi egaliter yang dianut oleh Komunis membuat wanita mengadopsi tunik yang terdiri dari jaket dan celana panjang yang mirip dengan pria.

Namun demikian, popularitas cheongsam terus berlanjut di koloni Inggris Hong Kong, di mana ia menjadi pakaian sehari-hari pada 1950-an. Di bawah pengaruh mode Eropa, itu biasanya dikenakan dengan sepatu hak tinggi, kopling kulit, dan sarung tangan putih. Film-film seperti The World of Suzie Wong (1961), serta kebangkitan kontes kecantikan Hong Kong, memperkuat hubungan garmen dengan Hong Kong dalam kesadaran internasional.

Pada akhir 60-an, popularitas cheongsam menurun, memberi jalan bagi gaun, blus, dan setelan gaya Barat. Pakaian Barat yang diproduksi secara massal ini lebih murah daripada cheongsam buatan tangan, dan pada awal tahun 1970-an, pakaian itu tidak lagi dipakai sehari-hari untuk sebagian besar wanita Hong Kong. Namun, itu tetap menjadi pakaian yang signifikan dalam sejarah mode wanita Cina.

 

Tinggalkan Komentar Anda